Setelah berlatih tanding dengan Lala dan dilanjutkan dengan meditasi, Leena, yang masih duduk bersila di bawah pohon besar itu, mengalihkan pandangannya dari Mochi ke Lynx yang berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.

“Kakek Mochi,” panggil Leena, suaranya pelan tapi jelas. “Apakah Chi yang sedang kulatih ini sama dengan kemampuan Lynx? Maksudku, dia juga berbicara tentang energi, kan? Jadi apakah ini hal yang sama?”

Mochi tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Dia merapikan posisi duduknya, memandang Leena dengan sabar. “Pertanyaan yang bagus, Leena. Memang, baik energi yang kau latih maupun yang dimiliki Lynx sama-sama terkait dengan konsep kekuatan yang tidak terlihat. Namun, mereka memiliki perbedaan yang sangat besar.”

Leena mengerutkan kening, bingung. “Apa maksudmu?”

Mochi mengangguk ke arah Lynx, lalu menjelaskan, “Energi yang kau latih, yang disebut Chi, adalah kekuatan yang terpendam di dalam tubuhmu sendiri. Itu seperti api kecil yang sudah ada di dalam dirimu sejak lahir. Latihan seperti pernapasan yang kita lakukan hanya membantu menenangkan pikiranmu dan mengendalikan energi itu agar tidak liar. Kau mengolah energi dari dalam tubuhmu, memperkuat dan mengarahkannya.”

Leena mengangguk pelan, mencoba mencerna penjelasan itu. “Jadi, aku seperti… memanfaatkan kekuatan yang sudah ada di dalam diriku?”

“Benar,” jawab Mochi. “Kekuatan itu tidak perlu kau cari di luar dirimu. Semua yang kau butuhkan sudah ada di sana, menunggu untuk dibangkitkan.”

Lynx, yang mendengar pembicaraan mereka, mendekat dan duduk di dekat mereka. “Kalau begitu, apa bedanya dengan kekuatan yang aku miliki?”

Mochi memandang Lynx dengan tatapan penuh pemahaman. “Kau, Lynx, berbeda. Energi yang kau gunakan bukan berasal dari dalam tubuhmu sendiri. Kau menyerap energi spiritual dari alam semesta di sekitarmu—dari matahari, udara, bahkan tanah di bawah kakimu. Lalu menyimpannya di dantianmu. Bahkan kamu dapat menggunakannya langsung tanpa harus menyimpan terlebih dahulu ke dantian.”

Leena menatap Lynx dengan heran. “Jadi, kau benar-benar seperti… menyerap kekuatan alam?”

Lynx mengangguk, wajahnya serius. “Kurang lebih seperti itu. Tapi itu tidak semudah kelihatannya. Jika aku tidak bisa mengendalikannya dengan benar, energi itu bisa membahayakan diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku.”

Mochi menambahkan, “Inilah perbedaan besar antara kalian berdua. Lynx menggunakan energi eksternal yang sangat besar dan kuat, tetapi sulit dikendalikan. Sedangkan kau, Leena, melatih energi internal yang lebih stabil dan mudah dikelola. Meskipun energi internalmu tidak sekuat milik Lynx, itu sangat berguna meningkatkan kekuatan dan kecepatanmu dalam pertarungan dan dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan pada tubuhmu.”

Leena berpikir sejenak sebelum bertanya lagi, “Jadi, apakah Chi yang kulatih ini bisa menjadi sekuat kekuatan Lynx jika aku terus berlatih?”

Mochi menggeleng pelan. “Tidak, kekuatanmu dan kekuatan Lynx tidak bisa dibandingkan seperti itu. Kau memiliki kelebihanmu sendiri, Leena. Chi-mu mungkin tidak bisa meledakkan bebatuan seperti kekuatan Lynx, tapi itu bisa memberimu ketahanan, kecepatan, dan presisi yang jauh lebih tinggi dari manusia biasa lainnya. Dan yang paling penting, Chi memberimu kendali penuh atas tubuhmu.”

Leena tampak puas dengan jawaban itu, tetapi dia menatap Lynx lagi, penasaran. “Jadi, apakah aku bisa membantumu dalam pertarungan nanti, Lynx?”

Lynx tersenyum tipis sambil menatap Leena dengan mesra. “Aku yakin kau bisa, Leena. Tapi aku tidak hanya membutuhkan seseorang dengan kekuatan besar di sisiku. Aku membutuhkan seseorang yang bisa memberiku semangat dan dapat kupercaya serta diandalkan, seseorang yang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mundur.”

Leena merasa dadanya hangat mendengar kata-kata itu, tetapi dia segera menyembunyikan senyumnya. “Baiklah,” katanya dengan nada percaya diri. “Kalau begitu, aku akan berlatih lebih keras.”

"Jiwa jombloku meronta-ronta." Kata Lala yang ikut mendengarkan percakapan mereka disamping Leena.

Mereka semua tertawa mendengar kata-kata Lala. Lynx perlu mengakui bahwa sikap Lala, sangat mereka perlukan agar tidak terlalu tertekan dengan kenyataan harus bersiap berperang kapanpun melawan suku Monrest.

Mochi tertawa kecil dan memandang Leena. “Itu semangat yang bagus. Tapi ingat, latihan ini membutuhkan kesabaran. Jangan terburu-buru. Kita akan melanjutkan latihan dengan perlahan, memastikan kau benar-benar memahami dan menguasai setiap langkahnya.”

Leena mengangguk dengan semangat, siap melanjutkan perjalanan barunya dalam melatih tenaga dalam. Mochi merasa puas melihat tekad di mata gadis itu, dan Lynx hanya bisa tersenyum, bangga melihat perkembangan Leena. Latihan ini mungkin baru dimulai, tetapi bagi Leena, itu adalah awal dari perubahan besar dalam dirinya.

Sore hari itu, di bawah langit yang mulai jingga, Lynx dan Lala duduk di dekat sebuah api unggun kecil di dekat gua yang sudah runtuh. Mochi dan Leena terlihat sedang bermeditasi di kejauhan, membiarkan Lala berbicara dengan Lynx tanpa gangguan. Udara tenang, hanya terdengar suara angin yang berdesir lembut di antara pepohonan.

“Lala,” Lynx memulai, suaranya tenang namun serius, “apa kau sudah memikirkan cara bagaimana kau dan Kakek Mochi bisa kembali ke dunia kalian?”

Lala menghela napas panjang, matanya menerawang jauh. “Jujur saja, itu menjadi pikiranku setiap hari, Lynx. Tapi tanpa teknologi yang memadai, rasanya mustahil. Teknologi yang tersisa dari Kael hanyalah senjatanya. Semua perangkat penting dibawa oleh Kane dan Freya serta prajuritnya yang lain… dan sekarang semuanya hancur di gua itu.”

Lynx mengangguk pelan, memahami keputusasaan di suara Lala. “Jadi tidak ada alat apa pun yang bisa kita gunakan sekarang?”

“Tidak ada,” jawab Lala sambil menggelengkan kepala. “Aku harus menghubungi satelit di dunia kami agar bisa mesin yang kuciptakan membuka portal ke tempat ini. Aku sengaja membuatnya seperti itu agar teknologi yang kuciptakan tidak di salah gunakan oleh mereka. Namun, terdapat kekuatan aneh di pulau ini yang menghalangi kami untuk komunikasi keluar, padahal teknologi komunikasi yang kubuat, sudah diujicoba dan berhasil melewati berbagai dimensi."

Lala menghela napas lagi, "Teknologi portal itu membutuhkan mesin khusus yang hanya dimiliki dunia kami. Mesin yang aku buat tidak sempurna karena berdasarkan catatan awal ayah, sedangkan versi yang dibuat ayah sudah jauh lebih baik. Satu-satunya harapan yang aku miliki sekarang adalah mesin milik Monrest. Jika bisa mengambilnya, aku bisa mempelajarinya dan mengetahui bagaimana cara ayah berencana keluar dari tempat ini dan kembali ketempat kami.”

Lynx mengingat sesuatu dan segera melepas cincin yang selalu ia bawa dan pakai di tangannya. “Lala, ini milikmu, sudah seharusnya kamu yang membawanya. Kamu bisa menggunakannya nanti untuk mengaktifkan mesin itu, sekaligus menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari ayahmu, Milo.”

Lala mengambil cincin itu dengan tangan gemetar, matanya melebar saat mengamati detail ukiran yang familiar. “Terimakasih Lynx. Aku senang kamu yang mendapatkan warisan dari ayah, bukan orang lain".

Namun, senyumnya perlahan memudar. “Tapi…” Lala menundukkan kepala, “ini hanya kunci. Tanpa mesin portal itu sendiri, benda ini hanya akan menjadi cincin biasa.”

Lynx mengangguk, mencoba memahami. “Simpanlah baik-baik. Aku janji kelak kita akan merebut kembali mesinnya.”

“Baiklah,” jawab Lala sambil menyimpan cincinnya."Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?Apa rencanamu untuk kembali ke tempat asalmu?"

Lynx menghela napas, "Jujur saja, aku tidak tahu. Dan aku sangat berharap banyak, dirimu bisa mengantarkan aku dan Leena pulang."

"Tentu saja Lynx, aku pasti akan membantu kalian agar bisa menemukan dimensi kalian dan mengantarkan kalian." Kata Lala semangat.

Lynx berpikir sejenak, lalu teringat sesuatu. “Tunggu sebentar. Ada satu hal lagi yang mungkin bisa membantu.”

Lala menatap Lynx dengan penuh harapan. “Apa itu?”

“Surat peninggalan Milo,” kata Lynx perlahan. “Di dekat jasadnya, aku juga menemukan sebuah surat. Ada tulisan-tulisan di dalamnya yang tidak aku dan Leena mengerti.”

Mata Lala langsung berbinar. “Surat itu? Di mana sekarang?”

Leena, yang tiba-tiba muncul dari arah lain setelah mendengar percakapan mereka, menjawab dengan cepat. “Kami meninggalkan kotak berisi surat itu di gua tempat kami dulu tinggal. Waktu itu kami merasa tidak ada gunanya membawa benda itu karena tidak ada yang bisa membacanya.”
